|
J.W.M Bakker dalam kajiannya yang berjudul "Agama Asli Indonesia" menyimpulkan bahwa, "Walaupun bagian terbesar orang Indonesia mengaku beragama Islam, namun sikap keagamaan sehari-hari yang mereka hayati dijiwai dalam batinnya oleh agama asli Indonesia yang kaya raya isinya, yang dipelihara dengan khusyuk, yang tidak mau 'dirombak' oleh agama asing." Ada benernya om Bakker ini, terbukti dari keterangan bapak penjaga pintu tempat ziarah jlumprit di desa Ngadirejo, Temanggung, bahwa yang datang ke tempat ini adalah dari berbagai latar belakang agama, apakah islam, kristen, buddha atau yang lain. Eh, saya ngomongin apa ya? hehehe...tiga hari belakangan saya emang ada di Temanggung dalam rangka liburan, kebetulan temen kos saya si Tg mau pulang kampung yah saya ikutan...hehehe... Jadi, sebelumnya dia juga sudah menawarkan pergi ke tempat ziarah itu yang juga merupakan tempat pengambilan air suci waisak bagi umat Buddha di Jawa Tengah itu. Ini tempat diyakini oleh orang2 Jawa adalah makan Ki dan Nyi Nujum Majapahit, leluhurnya orang2 Jawa. Sewaktu Jawa khususnya Majapahit dikuasai oleh orang jawa yang telah beragama Islam dan banyak kerajaan Islam yang berdiri dan notabene juga kuat, nah si Ki dan Nyi ini tidak mau berada di bawah kekuasaan mereka, bukannya tidak mau masuk agama islam, tapi hanya tidak mau dikuasai secara politik. Nah larilah beliau ke lereng gunung Sindoro ini, dan beliau bertapa (atau bersemedi?) di sindang yang emang dekat dgn sebuah sendang (bagus ya permainan kaya gw?! :P). Eh, gak lama kemudian istri beliau wafat, dan dimakamkan disana, dan beliau juga menyusul tidak lama kemudian. Sampai sekarang masih ada tuh makamnya disana. Bersebelahan. Nah mereka tuh punya peliharaan sejak lari dari kerajaan, yaitu seekor kera putih. Kera putih itulah yang menjaga kedua makan itu. Tapi lama tinggal di hutan, membuat kera itu tidak lagi putih (emang ngaruh ya?). Nih kera kerasan bgt tinggal di hutan, selain karena makanan tersedia disana juga ada komunitas kera, nah beranak pinak lah si Kera itu disana, sampai sekarang banyak bgt Kera bebas bergelantungan disana (tapi waktu akika kesana lagi ujan jadi gak nampak banyak :~( ) Sekarang kalo ziarah kesana, ada dua tempat untuk bersemedi, yang pertama di bagian atas, ada kayak sebuah gua buatan ukurannya kecil yang didepannya ada kolam air suci, jadi kita kesana lewat jembatan kecil, di tempat semedi itu ada patung kera hanoman itu dan di bagian luar di dalam kolam ada patung seorang resi penjaga. Di depan patung hanoman itu ada tempat lilin, tempat dupa, dsb. Mistik bgt pokoknya lah. Sebelum melewati jembatan kecil itu ada jalan sedikit kekiri juga merupakan tempat berdo'a yang disebelahnya ada tempat lilin trus di bawahnya ada ukiran tulisan kalo gak salah "Eyangi Tanah Jawi". Tempat semedi yang ke dua ada dibawah, turun pake tangga sedikit, nah disitulah makam kedua leluhur tanah jawa itu. Tempatnya gak luas kok, yah kira2 6 kali 3an meter lah. Di sekitar kuburan beliau tuh di sebelah kanannya ada patung Buddha, trus sebelah kirinya ada patung2 Dewi Kuan Im apa ya? trus ditengahnya ada patung Gajah Mada, di depannya ada tempat pembakaran kemenyan, tempat dupa dan segala hal. Tapi kesemua aksesoris yang ada disitu menurut keterangan Bapak penjaga pintu adalah tambahan saja hasil sumbangan dari peziarah. Waktu saya kesana ada seorang peziarah juga, dia dari Semarang, sudah dua kali kesana, gak tau dia mau apa sih kesana, tapi teman2 dah bisa nebak lah dia mau ngapain, lagian juga waktu itu adalah hari jum'at Kliwon yang gimana2 diyakini sebagai hari baik untuk berziarah. Oh ya, kenapa ini tempat namanya Jlumprit? Alkisah (cie..) dulu ada seorang yg bernama Ki Jlumprit, waktu itu beliau menderita sakit kulit yang teramat akut, ketika beliau sudah putus asa gitu pergilah beliau bersemedi di dekat makam Ki dan Nyi itu, waktu mau pulang, eh ndilalah (:P) beliau mendapat terawangan gaib (apaan ni?) dari Ki Singoderejo (nama asli Ki Nujum Majapahit itu) untuk menggunakan air suci yang mengalir dari Kali Progo yang ada dekat sekitar makan itu, dan beliau menaatinya dan walhasil penyakit beliau sembuh. Nah menetaplah beliau disana sampai akhir hayat, akhirnya dinamakan deh tempat itu Jlumprit. Sampai sekarang air suci itu diyakini juga sebagai obat penyakit, para peziarah juga banyak yg membawanya sepulang dari sana, sama kayak kepercayaan umat Islam akan air zam2 kali ya. Pada saat acara waisak pun, beribu2 botol menunggu antrian untuk diisi. Oh ya, orang disekitar ini punya kebiasaan di hari2 tertentu such as satu suro (satu muharam besok 10 feb bo') mengelilingi mata air Kali progo ini dan disela2 dengan mandi bersama (aduh asyiknya..:~~). Tapi ada yg mengganjal yg kelupaan saya tanya, kenapa umat Buddha menganggap tempat ini penting ya? apakah karena keberkahan air itu atau apa? Duh, besoklah kalau saya dapat jawabannya kukasih tau yak..hehehe... atau ada yg tau nih? Ini juga yg ditulis cuma mengandalkan ingatan doang jadinya kalo ada yg salah ttg sejarah tempat ini di koreksi ya atau ditambah soalnya ada lagi cerita ttg suruhan Ki Majapahit dua org yg menemukan candi di bawah beberapa kilo dari tempat ziarah ini, tapi saya lupa :P Sebenernya banyak lagi sih yang gw dapat, cuma entaran lah ya. Kalau ada yg salah dikoreksi ya.Oh ya, saya juga dapat formulir meditasi dari bu St. Meditasi ini untuk multi agama kok, bukan hanya umat Buddha. Ini meditasi mendatangkan guru dari India, dia seorang hindu. Nih meditasi diadakan dua kali setahun, yaitu 22 agustus dan 22 desember. Meditasi ini dinamakan meditasi Vippasena. Dilaksanakan selama 11 hari. tempat pelaksanaannya ada di tiga tempat yaitu di Cianjur, Klaten dan Bali. Jadi selama 11 hari tuh meditasi terus sama bertanya2 sama guru. Oh ya minimal kita harus bisa bahasa inggris minimal pasif lah, soalnya semua keterangan diucapkan dalam bhs inggris. Banyak peraturan (sila) bagi kita disana. Meditasi Vippasena mengarah pada sasaran religius tertinggi yaitu pembebasan total dan penerangan batin sepenuhnya. Vippasena sebenernya suatu seni hidup untuk membasmi nafsu keinginan, kemarahan dan ketidaktahuan. Yah begitu sih katanya. Yah bagi teman2 yg tertarik bisa lah menghubungi Yayasan Meditasi Vippasena Indonesia di 021 4513848 atau Cianjur 08161851736 atau Klaten 0272 321045 atau Bali 0361 481482. Tapi perlu diinget kalo selama 11 hari itu tidak boleh sekalipun ritual agama tertentu, seperti kebaktian kristen, meditasi buddhist dan membaca paritta, bahkan sholat lima waktu sekalipun. Bagaimana? Huhuhuh...dah panjang bgt nih nulis, kriting deh jari. Dah dulu ya. Gw tutup dgn beberapa point dari Dhammapada, yg walaupun kata Karen Armstrong tidak termasuk kitab suci pitaka yang penting, tapi menurut gw nilai2 Buddha justru bisa dirasakan disini.. "Orang bijaksana tidak bertindak curang, baik untuk kepentingan sendiri maupun orang lain. Ia tidak menginginkan anak, kekayaan atau kekuasaan lalu bertindak jahat. Ia pun tidak menginginkan sukses dari jalan yg salah. Sesungguhnyalah ia orang yang berbudi, adil dan bijaksana." "Bukanlah seorang adil, ia yang membuat keputusan dgn tergesa2, terpengaruhi oleh kebencian, keinginan, ketakutan dan kebodohan). Org bijaksana hendaknya memeriksa dgn teliti, mana yg benar dan mana yg salah." |
| adiatma May 11, 2009 05:22 PM PDT Temanggung(mungkin) adalah derah yg paling banyak memiliki penganut budhis terutama kecamaytan Kaloran, Candoroto, Ngadirejo dan beberapa kecamatan seperti Pringsurat,Parakan,Kandangan dengan umat lebih kecil. mereka adalah umat dari etnis jawa yg bersahaja sebagaian besarcterdiri daripada petani. ada aliran Theravada (mayoritas) dan Tantrayana Kasogatan ( Zon Fo Zong). sungguh menyenangkan berada di tengah mereka menyelami apa yg mereka yakini yg amat berbeda dg kebanyakan yg diyakini saudasaudara sesama suku jawa lainnya. Sabhe Satva Bavanthu Sukhitata semoga semua makhluk berbahagia | ||
| fuadi lkirom February 6, 2009 04:35 PM PST bhuda selalu menarik bagi saya pribadi. karena disitu diajarkan bhudi luhur, secara langsung, dulu waktu aku ikut bhuda selalu saja dalam kebaktiannya duduk dngan posisi sopan dengan waktu yang relatif lama sehingga aku merasa tak kuat, jujur bhuda adalah agama yang baik bagi ku | ||
| panggah susanto December 21, 2007 11:39 AM PST tertarik membaca artikel ini. Sy orang asli Temanggung, tepatnya lahir dan besar persis di desa di bawah Jumrit malah gak tahu hal ikhwal cerita itu. Saya juga surprise ternyata umat budha di tmg lumayan berkembang. Dulu waktu sy mash kecil cukup banyak penganut budha di desa sy, tapi skrg sdh tdk kedengaran lagi. Sy selalu tertarik dgn kajian antar agama, dan sy juga setuju kl di indonesia harus dilakukan pembaharuan terhadap cara penghayatan Tuhan, agar manusia inonesia menjadi manusia yang unggul, kuat tidak anut grubyuk ora ngerti rembug, ela elo (tahu khan artinya), sy bisa dikasih kontak anda agar sy dpt diskusi lebih banyak | ||
| shinta February 4, 2005 02:08 AM PST semedi sama dengan samadhi (bahasa Pali), kalo Bahasa Indonesia jadi tapa hehehe. Vipassana itu teknik meditasi paling simpel, diajak pake logika juga jalan, tapi kena ke inti. Sebenarnya aku tahu ada satu situs cukup lengkap membahasa Theravada Buddhism, sayanganya bukan Bahasa Indonesia/ Inggris. Kamu di Jawa sekalian ke Mendut aja Guh, di situ ada Bante Ponyavaro, pimpinan Theravada di Indonesia. Oya soal studi, di Sanata Dharma sedang ada program Master Inter Religi dan Budaya, gratis, proyek pencerahan orang-orang SJ, kali-kali tertarik. | ||
| Leave a Comment: |