14 jam menjelang tahun baru, yang ada di kepala saya hanya Aceh. Sampai makan bakso urat pun teringat Aceh. Puncaknya, refleksi akhir tahun - seperti malam tahun baru sebelumnya - di masjid Kraton bersama Amien Rais. Speechless abis. Gak tahu harus ngomong apa. Semoga hal yang sedikit dilakukan dapat bener2 berarti buat mereka disana. Dan semoga apapun yang kita lakukan ditahun baru ini semuanya merupakan ekspresi kepedulian terhadap masyarakat yang terkena musibah dimanapun juga. Kita merayakannya buat mereka.
Bagaimanapun sedihnya tahun baru ini, harus tetap optimis. Malam tahun baru kemarin, saya:
*. Sudah memutuskan untuk mengambil marketing sebagai penjurusan
*. Lebih serius lagi belajar agama-agama sampai ke akar2nya
*. Lebih banyak jalan2 dan kenal orang2 agar wawasan lebih terbuka, hidup harus lebih dinikmati
*. Jangan terlalu mikirin pendapat org lain tentang diri sendiri, anggap aja masukan yg membangun.
*. Jangan suka prasangka buruk dulu sama org lain dan lebih peka dgn org lain
*. Ikutan fitness lagi setelah tiga bulan berhenti, banyak makan sayur dan buah
"Tiap manusia adalah guru dan tiap tempat adalah sekolah" adalah filosofi utama hidup saya untuk tahun ini.
SELAMAT TAHUN BARU
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Kalimat ini yang selalu diucapkan oleh setiap muslim untuk memulai harinya. Kalimat yang tidak jauh berbeda maknanya juga diucapkan oleh umat beragama lainnya untuk mensyukuri dan menyadari kehadiran Tuhan di tiap detik. Kita, manusia, gampang sekali menerima kalimat yang menyakini ke-Maha Kasih-an Tuhan itu ketika hidup kita lempeng2 aja, penuh dengan kebahagiaan, penuh tawa canda, kehangatan keluarga dan teman, makanan dan tempat hidup yang nyaman dan lain sebagainya yang terkadang membuat kita "mabuk kepayang". Tapi ketika kita mendapatkan musibah yang bahkan kita tidak mengerti kenapa kita bisa kena itu musibah, dimana ke-Maha Kasih-an Allah itu?
Saya pikir temen2, ke-Maha Kasih-an Allah itu tidak semata2 apa yg bener2 tampak oleh mata kita secara nyata, tapi lebih dari itu. Bukan suatu peristiwa, tapi hikmah peristiwa. Kita diberi kesehatan, bukan itu tepatnya Kasih Allah, melainkan apa yg bisa kita lakukan disaat sehat, begitu juga dikala sakit, apa yang kita bisa renungi dan benahi dikala kita sakit, mungkin makanan atau tempat tinggal atau gaya hidup yg jelek. Kasih Allah adalah saat kita bisa mengkoreksi diri. Pada saat tertimpa bencana yang begitu besar pun, tidak mungkin Kasih Allah itu hilang. Kasih Allah adalah pada saat kita menyadari bahwa hanya Allah lah yg Maha Kuasa, manusia harus lebih tawadhu', tidak berniat apalagi sok2 untuk mengganti posisiNya dgn segala kesombongan, lebih menyadari bahwa hidup di dunia ini sementara dan apa2 yg kita miliki di dunia ini pada hakikatnya bukan milik kita, lebih menyadari bahwa ketidakberdayaan kita sebagai manusia haruslah menjadi pemicu kedekatan kita padaNya. Dan lebih lebih sebagai suatu bangsa bahkan sebagai sesama manusia, Kasih Allah adalah pada saat kita menyadari kalau kita ini adalah satu. Satu darah. Satu rasa. Satu nafas.
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan - Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS.Al Hadid: 22 - 23)
Sesungguhnya segala apa yang ada dibumi ini tidak kekal dan akan kembali lagi kepada Allah, Sang Maha Memiliki. Begitu juga dengan musibah hanyalah salah satu sarana Allah mengambil lagi apa yg dimiliki olehNya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah - buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang - orang yang sabar, (yaitu) orang - orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiuun” (QS Al-Baqarah: 155 - 156)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa kemudharatan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan:” (QS An Nahl : 53)
Tentu saja pertolongan dari Allah itu bisa melalui kita sebagai sesama manusia. Apa yang bisa kita lakukan dan berikan, Lakukanlah dan berikanlah. Walaupun itu hanya sekedar do'a. Bantuan temen2 yang lebih dari sekedar do'a bisa disalurkan melalui sini atau sini atau lihat aja situs bang Adi ini. Ada satu kisah di injil Lukas yang saya suka sekali, kisahnya tentang mengasihi Tuhan sekaligus sesama manusia untuk hidup kekal, begini ceritanya,
"Pada suatu hari berdirilah seorg ahli Taurat untuk mengetes Yesus, katanya, "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus padanya: "Apa yang tertulis di dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca disana?" Jawab org itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dgn segenap kekuatanmu dan dgn segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabanmu benar, perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." (Lukas 10: 25-28)
Man, beneran deh, Duka Aceh bener2 duka kita bersama. Kebahagian salah satu elemen bangsa adalah kebahagian kita bersama. Begitu juga dgn kesedihannya. Semoga Indonesia tidak terus menangis ya.
Yang saya tahu dari iman kristiani, Isa Al Masih atau Yesus Kristus adalah Kalam Allah. Inkarnasi dari Sang Bapa. Kelahiran Yesus ke dunia adalah harapan baru. Kedatangan Tuhan untuk ikut secara langsung merasakan penderitaan manusia dan menjadi juru selamat bagi mereka. Kelahiran Yesus adalah terang bagi dunia.
"Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mualnya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu diciptakan melalui Dia, dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemulian yang diberikan kepadaNya sebagai Putra Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran." (Yoh. 1: 1-4,14)
Walaupun umat Islam memahami dan mengimani Yesus dgn cara yang berbeda. Dan tidak memperingati kelahiran beliau. Tapi umat Islam sangat menghormati sosoknya yang penuh mukjizat dan bukti kekuasaan Allah. Ia adalah Nabi Allah. Penyampai Kalam Allah. Umat Islam menghormati beliau sama dengan Nabi2 Allah yang lain, bahkan Yesus termasuk dalam Nabi2 utama umat Islam bersama dengan Nabi Nuh, Musa, Ibrahim dan Muhammad.
"Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya." (QV. Maryam : 31-34)
SELAMAT NATAL
DAMAI DI BUMI DAMAI DI HATI
Kalimat Sakti dari ibu saya yg selalu menghantarkan saya pergi sekolah dulu dan telpon2 mingguan saya ketika sudah sekolah di jawa adalah beliau selalu berdo'a, "Pandai Otaknya Baik Hatinya."
Walaupun saya sadar sekali, saya masih jauh sekali dari harapan yang sangat tinggi itu. Kasih ibu, tetes air matanya dan butiran2 dzikir2nya tidak akan pernah tergantikan walaupun saya sudah bisa sepenuhnnya menjadi harapan ibu saya itu.
Selamat Hari Ibu, Mak. Cium sayang dari guntur.

Membaca postingan mbak Dini ttg saya, membuat saya tersenyum tanda semua yg ditulis disana bukan hal yg baru lagi untuk ditujukan disana. Tidak masalah kalau hanya menyinggung saya, tetapi beliau juga menyinggung bapak Mukti Ali, seorg inspirator bagi saya selama ini dan program lanjutan yg dibangunnya yaitu program studi perbandingan agama, tmpt saya sekarang berproses. Hal ini kemudian membuat saya membuka kembali buku beliau yg menjadi "kitab suci" anak2 perbandingan agama seluruh Indonesia yaitu buku "Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia." Untung saja saya punya yg versi tipisnya, coba kalau yg tebel, dah jereng kali nih mata bacanya :P Dan yg saya tulis dibawah pun originally taken from that book ya :)
Friedrich Max Muller pada tahun 1870an pernah mengatakan bahwa memang ilmu agama yg berlandaskan kepada perbandingan agama2 yg tidak berat sebelah dan bener2 ilmiah memang masih merupakan janji2, belum merupakan kebutuhan. Ini dizaman beliau dulu, tapi zaman sekarang saat konflik agama seperti sudah makanan sehari2 jelas merupakan kebutuhan mutlak. Kemudian beliau melanjutkan, "Oleh karena itu adalah menjadi kewajiban bagi mereka yang mencurahkan hidupnya untuk mempelajari agama2 besar dunia dalam dokumen2nya yg asli, dan yg menilai agama dan menghargainya dalam bentuk apapun agama itu menampakkan dirinya, untuk mulai menggarap wilayah baru ini dengan nama ilmu yg sebenarnya." Jelas bgt, belajar agama lain harus ke sumber asli agama itu, memakai kacamata agama yg kita pelajari, harus dialogis, gak bisa monologis :)
Tiga puluh lima tahun kemudian, Louis H. Jordan menanggapi perlu untuk memberikan arti penting ttg Perbandingan Agama itu sendiri, beliau mengatakan, "Ilmu perbandingan agama adalah ilmu yg membandingkan asal-usul, struktur dan ciri2 dari perbagai agama dunia, dgn maksud untuk menentukan persamaan2 dan perbedaan2 yg sebenarnya, sejauh mana hubungan antara satu agama dgn agama yg lain, dan superioritas dan inferioritas yg relatif apabila dianggap sebagai tipe2." Hm...perbedaan2 tanpa kita pelajari pun sudah jelas terlihat dari agama2, tapi kalau persamaan? Gampang memang mengatakan bahwa semua agama mengajarkan hal2 yg baik, keadilan, persamaan hak, bla bla bla tapi persamaan itu "dibungkus" dalam bentuk apa itu yg perlu dipelajari.
Karena, mbak Dini pun kemudian menyangkutpautkan program yg dicanangkan bapak Mukti Ali itu dgn kata "barat" dan emebel2nya yg (mungkin) mencerrminkan ketakutan dan kebencian mbak Dini akan barat (walaupun penggolongan apakah org dikatakan ber cap barat juga gak jelas) atau kewaspadaannya, bisa saja beliau dan temen2 yg seide dgnnya mengatakan bahwa dua pendapat sarjana barat itu tidak bisa dijadikan landasan, hal ini sudah diduga oleh pak Mukti Ali, kenapa ilmu perbandingan agama atau katakanlah org2 yg mencoba memahami dan belajar agama2 lain dianggap aneh di banyak negara muslim khususnya Indonesia (apalagi dicap dgn kaum liberalis :P )
Antara lain adalah, penanaman agama islam di banyak negara apalagi di Indonesia selalu didominasi oleh warna keislaman tasawuf dan selalu mistik. Tasawuf yg lebih cenderung ke mistik berakibat pemahaman umat islam thd agama tidak bisa menjadi suatu yg ilmiah, tidak bisa dikonsepi dan tidak bisa dinalar. Umat islam cenderung mengkultuskan agama tanpa melihat aspek historis dan mencabut agama dari akar2 sejarah. Dikiranya agama adalah paket langsung jadi yg turun dari langit tanpa adanya dialektika dgn sekitarnya. Dan Fiqih membuat pemahaman umat islam thdp agama selalu hitam-putih, haram-halal, baik-jelek tanpa boleh ada interupsi, kalaupun ada harus org2 yg mempunyai kemampuan. Sehingga agama secara mendalam hanya bisa dinikmati beberapa org tertentu. Tentu saja saya tidak mengatakan dua pendekatan agama ini buruk, tapi yg saya sayangkan pendekatan agama dgn ilmu2 kalam dan filsafatnya sama sekali tidak ada. Padahal dua ilmu ini sangat penting dalam penghayatan secara mendalam agama2, dan dua ilmu inilah yg bisa "menembus" inti dari agama islam itu sendiri.
Selain pengaruh dari dalam, tentu saja ada pengaruh dari luar yaitu trauma umat terhadap umat2 lain. Kristenisasi, perang salib, kolonialisme, dsb membuat umat islam perlu menjaga jarak. Tapi jarak itu terlalu jauh. Saya bisa memahami sekali kalau umat islam dan kristen sangat susah melupakan peristiwa itu. Tapi kenapa kita tidak mencoba memahami kalau "gesekan" itu hanya merupakan suatu peristiwa sejarah yg memang harus dilalui. Selasa lalu, anak rumput langit mengadakan diskusi refleksi natal dari perspektif islam dan kristen. Salah satu penyaji adalah mahasiswa teologi universitas kristen duta wacana, ketika ia ditanya ttg perang salib, ia hanya menjawab singkat, "bagi saya dan temen2 teologi lainnya, crusade war hanyalah peristiwa sejarah dan materi kuliah yg akan diujikan nanti." Begitu juga dgn penyaji muslim, "Menjadi tidak penting untuk melangkah bersama menuju masa depan yg lebih baik antar agama jika masih saja selalu mengkorek2 sesuatu yg seharusnya tidak terjadi." Apa yg umat islam rasakan dari suatu konflik, pasti umat kristen rasakan. Begitu juga dgn konflik antar agama lainnya. Bukankah ruh dan rasa kita berasal dari Ruh yg sama? Hal ini parahnya menimbulkan kecurigaan yg berlebihan bahwa org yg mencoba menyelami agama2 lain adalah org2 hasil dari propaganda barat, antek2 yahudi, dsb, padahal sebenernya nih kita harus tahu kalau org yg meletakkan dasar2 ilmu perbandingan agama adalah muslim sendiri, beberapa dari mereka adalah Muhammad Abdl Karim Al-Syahrastani dgn kitabnya Al Milal wal Nihal, tuh bukunya saya pajang disamping.
Tampaknya mbak Dini juga menyinggung ttg oksidentalis dan orientalis (saya lihat shoutboxnya dari mbak Lenje). Mencetak para oksidentalis juga adalah salah satu cita2 dari bapak Mukti Ali. Mengingat muslim adalah mayoritas dan ini merupakan sesuatu yg potensial sekali. Dan juga mengingat banyaknya orientalis yg cenderung menulis hal yg buruk thd agama2, khususnya islam. Kelahiran para oksidentalis merupakan sesuatu yg mutlak. Kita erat sekali mengadakan hubungan dgn negeri2 Amerika, Eropa Barat, dst yg agama mereka mayoritas adalah Katolik dan Yahudi, tapi mana buku2 yg ditulis oleh penulis2 Indonesia terutama muslim? Kalaupun ada kebanyakan adalah memojokkan dan tidak ada bedanya dgn sebagian orientalis yg buruk itu. Kita juga dekat secara geografis dgn penduduk yg beragama Hindu, Buddha, Shinto dan Konghucu, tapi sangat sedikit sekali informasi yg kita dapat ttg agama2 itu, bahkan mayoritas kita mengatakan Buddha adalah agama menyembah patung, cukup sudah itu menjadi bukti kerukunan keberagamaan kita dan rasa tahu kita thd agama lain sebenernya semu belaka. Diatur undang2 dan trilogi kerukunan, bukan sesuatu yg dtgnya dari dalam. Jadi saya kira tidak ada hubungannya dgn imperialisme dan liberalisme barat dalam studi agama2 apalagi ilmu perbandingan agama. Hanya kebencian emosional kita saja yg mengatakan seperti itu. Dan itu sangat tidak sehat menurut saya.
Untuk memahami agama2 besar itu, bagi manusia2 yg tertarik agama2 lain tidak cukup hanya dgn membaca buku. tentu saja membutuhkan kondisi emosional yg cukup. Yg diperlukan bukan sikap masa bodoh, lakum dinukum waliyadin, sebagaimana kaum positivistis berprinsip. Kondisi emosional yg dimaksud adalah partisipasi, pengalaman bergaul, dan merasakan aura yg ada di sekitar umat lain itu. Mengapa? Karena amalan2 dan kehidupan sehari2 org yg memeluk suatu agam itu kadang2 berbeda dgn ajaran2 yg murni dr agamanya. Dengan itu kita bisa merasakan apa yg mereka rasakan, walaupun tidak sepenuhnya. Bagi temen2 yg tidak tertarik dgn perbandingan agama, tentu hal yg aneh melihat muslim kok pergi ke tempat ibadah umat lain, tapi sekali lagi bagaimana bisa merasakan sesuatu kalau kita berada di lain tempat dan keukeuh tidak mau melepas "kacamata" kita.
Dgn uraian diatas rasanya cukup kita memahami kalimat, "Org yg hanya mengerti satu agama pada hakikatnya tidak mengerti apa2." Saya baru baca buku dialog teologis Bambang Noorsena, disana beliau mengatakan bahwa ayat2 di Qur'an yg "menyerang" agama Kristen sbnrnya hanya ditujukan ke ajaran Kristen yg salah, ajaran Kristen yg benar itu begini dan begitu. Bayangkan jika seorg muslim menulis ttg agama org lain dgn kacamata islamnya saja, entah itu mengatakan bahwa tuhan kristen itu tiga, buddhist dan hindi menyembah patung, dsb ternyata umat yg dituju dgn entengnya mengatakan, "ah, agama kami tidak begitu kok. Itu kan kata anda saja." Saya kira sebagai anak perbandingan agama, harus bisa melihat agama lain bener2 menurut kacamata penganutnya sendiri. Itu saya kira studi agama2 yg benar. Dan tentu saja kalimat "Org yg mengerti satu agama pada hakikatnya tidak mengerti apa2." tidak ada hubungannya dgn saya menolak ajaran Nabi Muhammad, apalagi kalimat Allah, "Agama islam adalah agama yg sempurna." dan "Agama yg paling benar disisi Allah adalah islam." Tentu saja sebagai muslim saya menyakini agama islam adalah agama yg paling benar, tapi apakah "paling benar" itu menghilangkan "benar-benar" yg lain. Apakah tidak boleh saya "menyicipi" kebenaran2 itu. Saya kira Kebenaran adalah milik siapa saja. Aneh sekali jika suatu kebenaran ketika ditempeli embel2 kristen, buddha atau apa saja selain islam kemudian otomatis salah. Allah tidak sesempit itu menciptakan segala sesuatunya. Dan menyicipi kebenaran itu bukan berarti saya kemudian mencampuradukkan agama atau malah harus memeluk gabungan dari agama2 tersebut.
Saya seminggu ini memikirkan istilah "mencampuradukkan agama" itu, bahkan dgn temen saya membahasnya dua kali sampai temen saya bingung kenapa saya mengulangi pembicaraan itu. Menurut hemat kami, jika saya sholat 5 waktu, kemudian saya pada minggu pagi melakukan kebaktian, pada hari rabu saya melakukan Puja Bhakti dan Meditasi kemudian saya ke klenteng membakar dupa dan kemudian di prempatan kos saya meletakkan sesaji, itu yg dinamakan mencampuradukkan agama. Tapi ketika saya mencari nilai2 yg baik pada tiap2 agama, memahami dan ikut merasakan keagungan ajaran agama2 lain, apakah itu mencampuradukkan agama? Untuk merasakan kebaikan ajaran agama lain, kita tidak haruslah menjadi umat agama itu. Bagi saya tiap2 agama tidak sepenuhnya berbeda, selalu ada kalimatun sawa' atau titik temu pada tiap2 agama. Dan itu yg saya cari. Dan saya rasa postingan saya sudah bersemangat seperti itu. Insya Allah. Dan jika saya mengenalkan agama2 lain kepada temen2, bukankah itu tugas saya? Jika banyak sodara2 muslim yg selalu mengunggulkan agamanya dibandingkan agama2 lain dgn lebih terfokus pada perbedaan2 antar agama itu untuk menjelaskan kebaikan agama islam, apakah saya salah jika saya menempuh jalan yg berbeda dgn mencari kesamaan2 tiap2 agama, toh tujuannya sama kan? Berlomba2 dalam kebaikan juga. Seperti harapan pak Mukti Ali juga tujuan mempelajari agama lain haruslah diorientasikan ke tujuan yg konstruktif atau membangun. Tidak ada yg aneh dgn itu. Dan kebanggaan saya thd agama saya tidak harus saya koar2kan, sudah banyak tmn2 dari fakultas dan jurusan2 lain yg seperti itu, sepertinya saya harus mencari jalan lain agar gak terlalu macet :)
Yang terakhir, jika seseorg mempunyai pemikiran, saya rasa bukanlah suatu keharusan jika pemikirannya itu harus sama dgn pemikiran umum latar belakang pendidikannya. Seorg yg dididik di pesantren yg kolot bukan berarti keluar harus berpikiran kolot. Bukankah pemikiran Karen Armstrong yg terbuka itu justru ada ketika ia masih berada di biara Katolik yg penuh dgn dogma2 yg ketat? Bukankah Nabi Muhammad mempunyai pemikiran yg berbeda sejak ia kecil yg mana lingkungannya dikitari oleh pemikiran2 yg terbelakang dan sempit? Bukankah Yesus Kristus juga lahir di rezim romawi yg kejam toh dia tidak terpengaruh oleh itu? Dan sama sekali tidak ada hubungannya dgn berusaha bersikap "modernis" apalagi "liberalis", semua itu murni berasal dari dalam dan kesadaran diri sendiri. Dan saya sama sekali tidak "sebersih kertas putih" saat dilepas dari pondok pesantren :)
Mempelajari agama2 lain, saya rasa tidak akan membuat aqidah luntur. Dan tidak berarti pula harus mencampuradukkan agama. Jika anda memang yakin bahwa agama lain mengajarkan kebaikan, menjadi pr bagi anda dalam bentuk apa kebaikan itu? Itupun kalau temen2 tertarik belajar agama2 lain. Segala yg saya tulis disini, saya kira masih dasar sekali, begitu juga dgn cara penyampaiannya. Jadi saya maklum jika ada salah persepsi, sebagian besar krn saya :)
Dosen filsafat saya bergurau kemarin, "Anak PA itu surganya saya rasa paling luas, karena mereka juga dapet surganya kristen, yahudi, nasrani, hindu, dsb dll." hehehe...tentu saja ini bergurau. Jgn2 ini dipermasalahkan lagi, susah ah ama org yg radikal kalo ngomong :P
Semoga Allah, Tuhan yg Maha Kasih dan Raja dari Segala Raja melindungi saya. Dan semoga pula, semangat yg saya dan temen2 PA saya miliki tidak melenceng jauh dari harapan bapak kami Mukti Ali. Amien.
Dulu saya beranggapan kalau agama Buddha adalah agama pagan yg menyembah patung Buddha. Ternyata pendapat itu salah sama sekali. Buddha sebenarnya hanyalah gelar untuk seseorang yg sudah mencapai kesempurnaan, yg sudah melepaskan dari berbagai belenggu nafsu dan kekotoran batin. Sudah mencapai pencerahan, begitu dalam istilah agama Buddha, jadi setiap org bisa mencapai Buddha itu. Tuhan itu adalah tujuan, tuhan tidak bisa dirumuskan, tidak bisa terceritakan, tidak terkonsep, karena kebenaran bagaimanapun susah untuk digambarkan dalam dan melalui cara apapun. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan itu manusia membutuhkan pengalaman sendiri (ehipassiko), manusia harus merasakan sendiri adanya tuhan itu. Caranya dgn menempuh jalan kemuliaan berunsur delapan (Ariya Atthangiko Magga) yg terdiri dari (from www.buddhistonline.com) :
Itu deh yg kita dapat dari kunjungan ke Vihara Karangjati di jalan AM Sangaji Yogya hari ini. Sebenernya kita (saya, Le, Pur, Rj) awalnya datang ke Vihara Buddha Prabha yg di Bridgen Katamso itu lho, tapi lagi2 bikhunya gak ada, pdhl hari selasa kemarin waktu sama si Tr dah kesini juga tapi kagak ada juga, ngotot bgt mau ke sini soalnya nih Vihara unik, ada sejarah politisnya juga, jadi nih Vihara depannya ibadah konghucu tapi dalamnya Buddha. Ceritanya sih dulu awalnya Vihara itu Klenteng yg khusus untuk agama Konghucu tapi ketika agama itu mau diberangus akhirnya mereka mengidentikkan diri dgn agama Buddha. Itulah akibatnya kalau pemerintah "sok ikut campur" kehidupan beragama. Ujung2nya pasti jelek. Lanjut, mau ke Vidyaloka dah pernah, akhirnya ke Vihara yg itu deh, itupun cuma ketemu ama mas "ta'mir"nya, karena bikhunya lagi di Mendut. Tapi gak papa, masnya open sekali, enak bgt. Namanya mas Tri, asli Temanggung (Anak2 PA angkatan atas pasti dah tau deh). 3 jam lebih ngobrol disitu, dari masalah agama sampai kampus. Dari masalah patung Buddha yg dihancurin Taliban, Bangladesh negara muslim yg mempunyai 5000 org bikhu sampai kenapa org yg baru mau getol belajar islam masuk organisasinya kok KAMMI...hehehe..


Dah jadi kebiasaan saya kalo jam 10 malem ke atas harus ada di depan televisi. Nonton apa saja. Pusing kepala saya kalo seharian gak nonton teve. Kadang sendirian, kadang barengan temen kos. Kadang ditemeni makanan kecil, kadang kelaparan. Biasanya ada aja topik yg kami bicarakan. Tapi anak2 biasanya memulai pembicaraan dgn saya selalu saja dgn topik yg sama yaitu agama dan Tuhan (Hiks). Tapi obrolan kemarin malam sangat membuat saya geleng2 kepala heran dan sedih.
Dia : Tuhanku ya tuhanku, tuhan mereka ya tuhan mereka (mereka yg dimaksud adalah non muslim)
Gw : Yg menciptakan mereka siapa?
Dia : Tuhanku
Gw : Kok bukan tuhan mereka?
Dia : lah, lakum dinukum waliyadin tha (bagimu agamamu, bagiku agamaku)
Gw : <":$&$^%()*&@@ *walaupun terus menyerocos, sebenernya hati saya tersentak*
Ada dua hal yg saya sadari dari pembicaraan diatas:
* Ternyata bagi sebagian kita, Tuhan tidak ada artinya daripada sekedar aksesori agama, salah satu bagian agama. Tuhan itu ternyata lebih kecil daripada agama. Agama yg menciptakan tuhan, bukan sebaliknya. Kita yg selama ini mengaku beragama, beribadah kepadaNya, memujaNya dgn kaidah2 agama ternyata sama sekali tidak meng-ilah-kan tuhan. Tuhan pada hakikatnya tidak hadir di dalam keseharian kita. Benarkah kita selama ini menyembah tuhan? Bukan yg lain? Menyedihkan.
* Ternyata tuhan bagi sebagian kita adalah tuhan yg dimonopoli, bukan tuhan komunal melainkan lokal, tuhan yg diperebutkan, tuhan yg dibagi2 atau apalah. Tiap kaum ada tuhan sendiri2. Saling bersaing untuk memperebutkan umat seperti para capres pas kampanye kemarin. Aneh sekali. Tuhan yg sejati itulah Tuhan Semesta Alam. Tuhan seluruh umat manusia. Dan Tuhan seluruh makhluk yg ada dan pernah ada di seluruh jagat raya ini. Tidak ada tuhan dalam bentuk yg lain. Yg ada hanyalah persepsi manusia ttg Tuhan. Tapi Tuhan ya yg itu itu juga.
Ttg agama, dari luar kita bisa saja di cap muslim, kristiani, yahudi, hindu, budha or whatever. Tapi, sebenernya hati tiap manusia menganut agama yg sama. Yg percaya akan tuhan dan yg mendambakan kedamaian. Saya rasa kita perlu menyadari itu. Karena sebenernya kita telah menganut agama itu, tapi tidak menyadarinya.
Saya jadi ingat, beberapa hari yg lalu dgn seorg teman main ke sebuah Vihara, kita ketemu dgn seorg mahasiswi seni lukis ISI yg sedang mengerjakan tugasnya dgn melukis Vihara itu. Kita mengobrol berbagai hal sampai ke masalah Tuhan. Dia mengaku berkebudayaan islam (dia gak menyebutnya agama) tapi tidak percaya Tuhan. Temen saya iseng nanya, "Mbak, percaya gak kalo tuhan itu satu?". "Duh, satu aja saya gak yakin mas, apalagi dua, tiga, dsb dll). Saya gak benci apalagi antipati sama org2 kayak gini, tapi saya hanya menganggap pernyataannya tersebut adalah sebagai protes dan akibat dari sikap keberagamaan kita selama ini yg (mungkin) amat teramat kolot dan kekanak2an.
Ugh, saya harap saya bisa dewasa dalam beragama.
Ayat yg sering diambil sebagai alasan "penyunahan" poligami adalah :
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta bersama hartamu. Sesungguhnya indakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
(QV. An Nisa :2-3)
Tapi ada ayat lain yg berbunyi seperti ini :
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QV. An Nisa : 129)

Mrotes poligami kok senyum sih mbak? Sing sabar yo...

Mantaaaffff abeeesss!!! Josss!!!
What do you think?
Saya : Woi, ayo ke gua maria sekarang?
Le : Hohoho...ok deh sip
Jadilah kita dua bujangan ganteng nan santun pergi ke gua maria hari ini. Bermodal motor, baju hitam hitam yg licin, rambut klimis, aroma CK, senyum menawan dan mata elang yg tajam (halah!) kita pergi ke gua maria Lourdes Sendang Sono Kalibawang Kulonprogo, tepatnya di Paroki Promasan. Bah! ternyata jauhnya tak terkira le, ada kali 30 km lebih dari kota, mana jalannya belok belok tajam gitu, gak terkejut bgt sih soalnya dah pernah lewat situ pas pelatihan da'i (uhuk! :P ). Trus masuk ke gua maria nya ada kali 5 km an lebih(sekitar 3 kilo ke Gereja Promasan dan 2 kiloan ke lokasi Gua Maria) dari jalan raya, yg mana jalannya belum diaspal dan berbatu2 gitu, naik turun terjal bgt, mana sekitarnya pohon2 lebat dan jurang, kan tatut tuh kalo tiba2 ada hewan buas :P tapi emang serasa kemping gitu kok. Si Le sempat tak suruh turun beberapa kali karna motor tak kuat membawa dirinya naik tanjakan, kasihan juga itu anak ngos2an, tapi gak apa untuk diet nya dialah.
Sampai juga akhirnya ke gua maria. Banyak anjing di sekitar situ. Setelah markir motor, kita disambut dgn beberapa pedagang yg menjual berbagai aksesoris ziarah seperti lilin, dari yg biasa sampai yg bergambar Maria dan Yesus, patung dari patung Maria, Yesus sampai St. Rafael, salib dari salib yg kecil sampai yg segede gambreng yg sering dipakai penyanyi r 'n b gitu, sticker, buku2 Katolik, buku2 do'a, lukisan, vcd, cincin, gelang yg semuanya of course Katolik punya.
Masuk ke sana, hening bgt (karena emang disana harus khusyuk), sunyi euy, apa karena dah sore ya. Hanya ada beberapa org yg berdo'a, ada yg dituntun ada yg sendiri2. Naik ke atas, ada pekuburan yg di depan pintu gerbangnya ada patung Yesus disalib yg gede bgt gitu, disampingnya ada lukisan bunda Maria berdiri di atas bumi yg dibelakangnya ada salib diatasnya ada tulisan "De Vrouwe Von Alle Volkeren". Di samping nya ada kursi kursi tersusun kayak di gereja2 tapi gak banyak. Turun ke bawah lagi ngeliat pahatan2 yg menceritakan peristiwa dari Yesus di hukum mati sampai kebangkitanNya. Urutannya nih kalo gak salah, 1. Yesus dihukum mati, 2. Yesus memikul salib, 3. Yesus jatuh untuk pertama kali, 4. Yesus jumpa dgn Maria, 5. Simon Kireni disuruh pikul salib Yesus, 6. Veronica menyeka wajah Yesus, 7. Yesus jatuh utnuk kedua kalinya, 8. Yesus menghibur org2 Yerusalem, 9. Yesus jatuh untuk ketiga kalinya, 10. Jubah Yesus diundi, 11. Yesus dosalibkan, 12. Yesus wafat di kayu salib, 13. Yesus diturunkan dari kayu salib, 14. Yesus dimakamkan, and 15. Kebangkitan Yesus. Sebenernya sih ada do'a2 tiap sampai di pahatan2 peristiwa itu, tapi mana mungkin lah ya. Anyway, gua maria ini termasuk penting ya, apalagi dalam perkembangan agama Katolik di tanah Jawa, tempat inilah pertama kalinya Romo Van Lith membaptis 4 org asli Jawa. Pada awalnya mereka meminta pertolongan kepada Romo untuk mengobati penyakit mereka atas petunjuk seorg Kyai, dan akhirnya mereka bisa sembuh, nah jadilah 4 org itu meminta untuk diajari iman Katolik dan akhirnya dibaptis. Merekalah 4 org jawa animis pertama yg memeluk agama Katolik. Mereka dibaptis di bawah pohon Sono yg dibawahnya keluar Sendang (mata air) karena itu disebut sendangsono. See?!
Lanjut. Naik ke atas sedikit, disanalah tempat Gua Marianya. Dibawahnya ada lilin yg dinyalakan tatkala berdo'a. Patungnya gak besar sih seperti yg saya bayangkan, ukurannya biasa aja, setinggi lelaki indonesia lah. Tapi emang mengagumkan. Para peziarah sebelumnya mengambil air suci di dekat pohon raksasa Sono itu kemudian memasukkannya ke suatu tempat dan menumpahkannya di bawah patung Bunda Maria itu. Dan berdo'a kepada Tuhan. Katanya, ini patung Bunda Maria diimpor langsung dari Denmark. Sorry, karena gak bawa kodak, nih saya comot saja dari web lain ya..

Patung Maria

Mata Air
Setelah sempat ngobrol sesaat dgn beberapa ziarah dari luar jawa dan solo, kita turun ke bawah melewati mata air itu dan lewat jalan salib tapi dgn cara terbalik, karena kita masuknya gak lewat jalan salib itu awalnya, sebelumnya di sekitar lokasi ziarah itu banyak pendopo, gak tau untuk apa, mungkin untuk diskusi alkitab atau pengajian kali ya kalau dalam istilah islam. Setelah selesai dan Romo yg mau diketemui kagak ada, pulanglah kita. Ffuuiih capek amir, amir aja gak capek :P
Tapi emang dasar si Le, Bayi dewasa nan hitam legam (matanya emang agak rusak) gak mau tukar posisi jadilah saya juga yg ngendarai motor. Huh. Mampir sebentar minum teh di warung. Jalan lagi. And karena kita ini adalau dua ikhwan (hoek! ) bersemangat liberal pluralis humanis inklusif progresif modernis anti konservatis dan tentu manis manis tetep dong gak boleh lupa shalat, mampirlah kita dulu di mesjid dekat situ dan istirahat leha2 disana (sebenernya intinya mau bilang kita shalat dan istirahat dulu tapi gak tau nih mode narsisnya on...kekekeke...). Sampai kos Le maghrib, makan malam sambel jengkol dan trus ngisi nih blog trus pulang. Bobo. Capek. Besok pagi bangunin saya ya. Atau ada yg mau mijitin saya? sip deh! :P
Di perjalanan pulang tadi sambil was2 karena si Le ini ngantuk2 helmnya terantu2 terus ke helm saya dan terbayang suasana hening dan khusyuk di Sendangsono, sayaa teringat postingannya mas Kere Kemplu edisi lebaran kemarin, dia bilang "Setiap sampan dalam Ajaran Sungai Besar Kehidupan adalah berkah bagi sampan lain beserta penumpangnya." Dan berkah itu yg selalu saya rasakan tiap kali melihat, membaca dan mencoba memahami bentuk sampan lain dari Ajaran Sungai Besar Kehidupan.
Mari saling mengenal :)

Akhirnya dapat juga kaset Ada Band yg Heaven of Love, hasil dari ngerampas maksa minjem si Il...huehuheu...ini lagu featuring dgn Gita Gutawa, Erwin Gutawa's daughter. Suaranya cute sekali dipadukan sama suara Donny yg lumayan berat dan renyah (snack kali! :P ) menjadi suatu harmonisasi yg mengagumkan. What a beautiful collaboration :)
Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah)
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu
Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan
Dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu, jatuh dan terinjak
Reff:
Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana
Basuh jiwaku
Mmbahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati
| Previous Page | Next Page |

| BLOGDRIVE |
| TEMPLATES |